Minggu, 09 Oktober 2011

Komunikasi dan Konseling dalam Pelayanan Kebidanan

Macam-Macam Klien dalam Asuhan Kebidanan

Sesuai dengan wewenang dan lingkup pelayanan kebidanan, maka konseling dalam bidang kebidanan meliputi:
1.       Komunikasi pada bayi dan balita
2.       Komunikasi pada remaja
3.       Komunikasi pada calon orang tua
4.       Komunikasi pada wanita hamil (masa antenatal)
5.       Komunikasi pada ibu bersalin (masa natal)
6.       Komunikasi pada ibu nifas
7.       Komunikasi pada ibu meneteki
8.       Komunikasi pada akseptor keluarga berencana
9.       Komunikasi pada wanita masa klimakterium dan menopause
10.   Komunikasi pada wanita dengan gangguan reproduksi

Komunikasi terapeutik memegang peranan penting dalam membantu pasien memecahkan masalah yang dihadapi. Komunikasi terapeutik didefinisikan sebagai komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatan dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
Tujuan komunikasi terapeutik adalah:
1)      Membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran.
2)      Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
3)      Membantu memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan diri sendiri

Komunikasi terapeutik pada klien dalam asuhan kebidanan:
I.            Komunikasi pada bayi dan balita
Komunikasi bayi dimulai sejak dia lahir ke dunia, dimulai ketika bayi mulai menangis sampai bayi dapat bicara lancar, adapun prosesnya dari bayi menangis sampai bisa berkata-kata belum dipahami secara pasti.
Fase pertumbuhan dan perkembangan komunikasi pada bayi meliputi:
a)      Fase prelinguistic (fase sebelum bicara)
Suara pertama yang dikeluarkan bayi baru lahir adalah tangis sebagai reaksi terhadap perubahan tekanan udara dan suhu luar uterin. Kebutuhan dikomunikasikan lewat tangis sampai usia satu tahun, pada saat usia anak dua sampai tiga minggu seharuanya orang tua sudah dapat membedakan tangis bayi. Biasanya bayi menangis karena lapar, pantat basah, kesakitan atau minta perhatian. Untuk dapat membedakan kita harus mengenali tangisan bayi:
·         Tangis lapar biasanya bayi menangis dengan suara mendatar dan meningkat sesuai kebutuhan.
·         Tangis kesakitan, bayi mengeluarkan teriakan yang mendadak karena bayi terkejut.
·         Tangis tidak nyaman atau minta perhatian bayi akan menangis yang berlangsung terus menerus
b)      Kata pertama
Kata pertama mungkin tidak disadari oleh orang tuanya karena anak banyak akal untuk mengerti perlu mendengar apa yang dikatakan anak sehubungan dengan apa yang dikerjakan. Missal: “mam” bisa berarti mama, bisa juga berarti makan. Tahap perkembangan anak pada lingkup kata pertama, antara lain:
·         Usia 10 – 12 bulan timbul pengertian pasif dari bahasa.
Bayi memberi respon terhadap kata yang familier misalnya ada yang menyebut ibu maka dia akan berusaha mencari ibunya.
·         Bicara sesungguhnya mulai usia 12 – 18 bulan.
Satu kata mengandung arti satu kalimat, misal : mengatakan makan berarti saya mau makan.
·         Menggunakan empat kata pada usia 15 bulan.
Sepuluh kata pada usia delapan belas bulan.

c)      Kalimat pertama
Kalimat anak seperti juga kata pertama, punya arti pribadi dan tidak ikut aturan tata bahasa, misal anak bilang “makan” berarti “aku mau makan”. Jadi orang tua atau orang disekitarnya harus tanggap terhadap kata-kata anak tersebut. Hal-hal yang berkaitan dengan kalimat pertama meliputi:
·         Usia 2 tahun anak mulai menyusun kata.
·         Disebut periode permulaan pembicaraan.
·         Kalimat anak mempunyai arti pribadi, tidak ikut aturan.
·         Kadang-kadang disusun kombinasi kata yang aneh.
d)     Kemampuan bicara egosentris
Kemampuan bicara egosentris (berpusat pada diri sendiri) dibedakan tiga macam:
·         Repetitif (pengulangan). Kata yang didengar diulang-ulang.
·         Monolog (berbicara satu arah) biasanya pada anak pra sekolah. Anak bicara sendiri memainkan banyak peran dengan berkata-kata sendiri.
·         Monolog kolektif. Beberapa anak berkumpul dalam suatu tempat tapi mereka bicara sendiri-sendiri, biasanya asyik memainkan mainannya sendiri.

e)      Perkembangan semantik
Semantik adalah pengetahuan yang mempelajari arti dari kata pada bahasa yang diajarkan. Anak pertama kali memahami arti konkrit dan jenis kata konkrit kemudian mulai mengetahui arti dan jenis kata abstrak. Misalnya anak akan lebih memahami kucing yang bisa dilihat daripada pahit,manis, dll. Kata abstrak dipelajari setelah pada masa pra sekolah. Kata yang sulit untuk anak pra sekolah adalah kata yang selain punya arti fisik juga punya arti psikologis. Contohnya: manis bisa berarti sikap, tapi juga bisa berarti rasa.

Prinsip komunikasi yang efektif pada anak:
1.       Mengikuti perkembangan psikologis anak.
2.       Kontak kasih sayang orang tua dapat memperkuat kepribadian anak.
3.       Pentingnya dalam komunikasi: belaian, dukungan dan sentuhan akan menimbulkan rasa senang dan bahagia.
4.       Dorongan bidan yaitu dengan membantu ibu serta pihak lain dalam memberikan dukungan rangsang aktif dalam bahsa dan emosi.

II.            Komunikasi pada remaja
Merujuk pada Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, remaja adalah mereka yang berusia 10 sampai 18 tahun. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), yang dimaksud remaja adalah laki-laki dan perempuan yang berusia 18 sampai 24 tahun.
Remaja biasanya merupakan masa untuk mencari jati diri dan pengakuan. Sehingga dalam situasi psikologis yang masih labil. Bila tidak diikuti dengan informasi-informasi yang benar maka akan menimbulkan berbagai masalah yang menyangkut kenakalan remaja.
Tujuan komunikasi pada remaja adalah memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi yang terjadi. Bidan perlu menjalin hubungan komunikasi terbuka, mengungkapkan hal-hal yang belum diketahui oleh remaja. Permasalahan yang dapat diselesaikan dalam bentuk komunikasi terapeutik pada remaja misalnya; perubahan fisik/ biologis sesuai usia, perubahan emosi dan perilaku remaja, kehamilan pada remaja, narkotika, kenakalan remaja dan hambatan dalam belajar.
Konseling yang diberikan pada anak laki – laki dan perempuan pada masa remaja bertujuan memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi yang terjadi pada usia remaja. Pelaksanaan konseling pada remaja menggunakan pendekatan kelompok.
Bidan perlu menjalin hubungan komunikasi terbuka dan mengungkapkan hal-hal yang belum diketahui oleh remaja. Bidan dapat melakukan komunikasi terapeutik pada remaja dengan menitikberatkan masalah:
·         Perubahan fisik/biologis sesuai usia
·         Perubahan emosi dan perilaku remaja
·         Kehamilan pada remaja
·         Narkotika
·         Kenakalan remaja
·         Hambatan dalam belajar

Komunikasi yang efektif pada remaja harus memperhatikan hal-hal yang menyangkut dengan remaja. Bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa baik secara jasmani maupun rohani. Jadi dalam komunikasi dengan remaja lebih memperhatikan:
·         Kenyamanan remaja dalam menerima informasi
·         Memperhatikan cara pandang remaja dalam mensikapi pesan yang disampaikan.
·         Memfokuskan pada persoalan yang akan disampaikan.
·         Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan nyaman untuk didengar.
·         Menjalin sikap terbuka dan menumbuhkan kepercayaan pada remaja.
·         Bisa menguasai dan mengendalikan emosi pada remaja saat penyampaian pesan.
·         Menjalin keakraban dengan remaja.
·         Bidan sebagai konselor dalam masalah tersebut perlu melakukan pelayanan konseling, baik pada keluarga dalam arti orang tua maupun remaja yang bermasalah.

III.            Komunikasi pada calon orang tua
Konseling pada calon orangtua membantu pemahaman diri untuk menjadi orang tua, baik sebagai ayah maupun sebagai ibu. Perubahan status kehidupan sesuai dengan perkembangan terjadi secara alami. Salah satu peran bidan ketika menghadapi klien adalah melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling kebidanan. Untuk memperjelas arah konseling kebidanan pada calon orang tua, perlu adanya pemahaman terlebih dahulu tentang hal – hal sebagai berikut :
·         Menjadi orang tua
Menjadi orang tua adalah suatu proses kehidupan yang bermula dari terbentuknya pasangan suami istri menjadi keluarga dan berlanjut dengan adanya keturunan.
·         Tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga dan sebagai ayah.
Dalam perubahan status menjadi ayah atau kepala keluarga, merupakan suatu keadaan yang membuat laki-laki secara psikologis harus mampu membagi kasih terhadap istri dan anak. Memenuhi kebutuhan keluarga secara fisik dan psikologis, secara moral dan material.
·         Tanggung jawab perempuan sebagai ibu dalam keluarga
Peran ibu dalam keluarga sangat kompleks. Ibu sebagai penerus keturunan, pendidik dalam keluarga dan sebagai pendamping suami serta sebagai pelaksana, menjalankan perekonomian dalam keluarga bersama suami.

Bidan dapat melakukan komunikasi terapeutik pada calon ibu dengan lebih menitikberatkan kepada:
1.      Memberikan penjelasan secara fisiologis peristiwa yang disebut menstruasi.
2.      Memberikan bimbingan tentang perawatan diri sehubungan dengan peristiwa menstruasi.
3.      Member bimbingan tentang persiapan perkawinan, dihubungkan dengan NKKBS/keluarga berkualitas.
4.      Persyaratan-persyaratan kesehatan yang sangat menentukan sebagai calon ibu.
5.      Memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi dan peran yang terjadi.
6.      Menikah dan membentuk keluarga baru membutuhkan konseling.



Konseling pada orang tua karena berperan sebagai orang tua yang baik:
1.      Butuh penyesuaian dalam menghadapi kehidupan dan lingkungan baru (dua keluarga menjadi satu).
2.      Menjadi orang tua merupakan proses kehidupan individu.
3.      Masalah perbedaan pasutri (pasangan suami istri).
4.      Tanggung jawab laki-laki (ayah/kepala keluarga)
5.      Tanggung jawab perempuan sebagai penerus keturunan, pendidik, pendamping suami, ekonomi keluarga.
Masalah-masalah yang dihadapi:
·         Kesehatan
·         Pendidikan
·         Hubungan antar dan inter keluarga
·         Psikososial (norma dan tata nilai)

IV.            Komunikasi pada wanita hamil (masa antenatal)
Konseling pada wanita hamil terutama ditujukan pada ibu dengan kehamilan pertama. Konseling yang diberikan oleh bidan pada trimester pertama berkenaan dengan perkembangan janin sesuai dengan usia kehamilan, serta perubahan yang terjadi pada ibu. Konseling pada kehamilan trimester ketiga berfokus pada intervensi yang diberikan pada klien berkenaan dengan keadaan janin dalam rahim, posisi janin dan letak janin. Persiapan persalinan baik yang normal maupun yang tidak normal didahului dengan penjelasan tanda persalinan.
1.      Peristiwa fisiologis:
Terjadi konsepsi (pertemuan sperma dan sel telur), ibu tidak menstruasi, terjadi perubahan hormonal, hal ini yang menyebabkan kadang ibu mengalami pusing, mual, tidak nafsu makan, peningkatan suhu tubuh dan nampak cloasma gravidarum, BB bertambah, pembesaran uterus, sehingga tadinya langsing menjadi montok, gendut, dan gerakan lambat.
2.      Perubahan psikologis:
Kehamilan merupakan arti emosional pada setiap wanita, yang biasanya disertai perubahan-perubahan kejiwaan. Peristiwa-peristiwa kejiwaan yang biasanya menyertai ibu hamil antara lain peristiwa ngidam dibarengi dengan emosi-emosi yang kuat karena dorongan hormonal, ibu jadi peka, mudah tersinggung, karena hamil umumnya menambah intensitas tekanan batin pada psikisnya, tetapi dapat juga dijumpai ibu yang bangga dengan kehamilannya dan bergairah menyambut kehadiran bayinya, bila merupakan peristiwa pertama. Disamping perasaan gembira, rasa cemas pun timbul apa bayinya cacat/sehat, apa melahirkan dengan lancar. Hal ini biasanya diperberat dengan kasus-kasus rumah tangga.
Hal-hal yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada ibu hamil adalah:
·         Ibu hamil pertama belum punya pengalaman, contoh adanya pergerakan anak, kelainan-kelainan kulit.
·         Anak yang tidak diharapkan, contoh pernah mau digugurkan tetapi tidak gugur, takut anaknya cacat, kehamilan diluar nikah.
·         Persalinan lalu tidak menyenangkan, contih anak lahir tidak abnormal, anak meninggal, perdarahan, terlalu mengharap jenis kelamin tertentu, umur ibu resiko tinggi, ibu menderita penyakit tertentu, tidak mendapat dukungan suami atau keluarga yang lain, dll.

Pelaksanaan komunikasi terapeutik:
Bidan yang senantiasa berhubungan dengan bumil diharapkan mampu melalaui tindakan pemeriksaan, penyuluhan, dan segala bentuk kontak langsung dengan berbagai metode maupun bentuk hubungan. Mengadakan komunikasi terapeutik.
·         Komunikasi terapeutik diharapkan dapat merendam pemunculan faktor psikososial yang berdampak negatif terhadap kehamilan.
·         Bidan diharapkan membantu ibu sejak awal kehamilannya untuk mengorganisasikan perasaannya, pikirannya, kekuatannya untuk menerima, memelihara kehamilannya sehingga dapat melahirkan dengan lancar.

Prinsip komunikasi pada ibu hamil:
·         Pesan yang disampaikan sesuai dengan kondisi ibu hamil.
·         Informasi yang diberikan menyangkut tentang kehamilan dan persiapan melahirkan. Seperti ke hal-hal yang menyangkut kesehatan serta pelayanan kesehatan yang diperlukan.
·         Menciptakan kenyamanan dan keakraban saat menyampaikan pesan.
·         Tidak membuat penerima stress dengan info yan disampaikan

V.            Komunikasi pada ibu bersalin (masa natal)
Kelahiran merupakan proses fisiologis yang diwarnai komponen psikologis. Akan tetapi peristiwa yang dialami tiap orang berbeda.

1.      Perubahan fisiologis:
·         Semakin tua kehamilan ibu semakin merasakan gerakan-gerakan bayi, perut makinbesar, pergerakan ibu semakin tidak bebas, ibu tidak nyaman. Kadang-kadang terjadi gangguan kencing, kaki bengkak.
·         Otot-otot panggul dan jalan lahir mekar
·         Kontraksi uterus dipengaruhi syaraf-syaraf sympati, parasympati, syaraf lokal otot uterus

2.      Perubahan psikologis:
·         Minggu-minggu terakhir dipengaruhi perasaan/emosi dan ketegangan.
·         Ibu cemas apa bayinya cacat, dapat lahir lancar.
·         Ibu takut darah, nyeri, takut mati
·         Kecemasan ayah hampir sama dengan kecemasan ibu, bedanya ayah tidak langsung merasakan efek kehamilan.
Pelaksanaan komunikasi terapeutik pada ibu melahirkan:
·         Melihat kecemasan pada ibu dan suami maka orientasi pelayanan bukan hanya ditujukan pada ibu tetapi juga pada suami. Ibu dituntun untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang proses kelahiran. Suami dibesarkan hatinya, dijelaskan apa yang terjadi pada istrinya.
·         Komunikasi pada ibu bersalin difokuskan pada teknik-teknik bersalin seperti teknik mengejan atau mengatur pernafasan dan lain-lain.
·         Pemberian pesan harus sabar dalam memberikan informasi pada saat ibu bersalin sehingga ibu yang sedang bersalin merasa nyaman dan tanggap dengan isi pesan yang diberikan sehingga bisa mempratekkan sesuai dengan apa yang diharapkan.

VI.            Komunikasi pada Ibu Nifas
1.      Perubahan fisiologis:
·         Terjadi proses involusio, keluar lochea, perut ibu kelihatan besar.
2.      Perubahan psikologis:
Muncul berbagai ekspresi akibat berlalunya peristiwa menentukan dalam hidupnya dan merupakan peristiwa mengesankan karena:
·         Ibu merasa bangga karena telah mengalami kesulitan, kecemasan, kesakitan, penderitaan dengan tenaganya sendiri.
·         Ibu bahagia karena telah mendapat relasi dengan bayinya, ingin cepat tau jenis kelamin, bentuk bayinya.
Disamping itu muncul gejala-gejala psikis disebabkan:
·         Ibu mengalami kesenduan, kepedihan hati, kekecewaan dan penderitaan batin missal karena anak hasil hubungan luar nikah.
·         Jenis kelamin anak tidak sesuai harapan, bayi cacat sehingga timbul rasa tidak cinta anaknya.
·         Ibu-ibu yang telah cerai, kelahiran anak merupakan peristiwa tidak menyenangkan.


Pelaksanaan komunikasi terapeutik:
·         Bidan harus hati-hati melakukan komunikasi karena kestabilan emosi belum pulih seperti semula.
·         Orientasi pembicaraan lebih berkisar penerimaan terhadap bayi serta kondisi fisik dan psikis ibu nifas

Prinsip komunikasi pada ibu nifas:
·         Komunikasi difokuskan pada permasalahan kasusnya masa nifas seperti cara menjaga kebersihan, perawatan bagi dan juga kesehatan ibu dan anak. Serta pemulihan organ-organ reproduksi.
·         Disesuaikan dengan kondisi ibu jika ada informasi atau pesan yang memerlukan suatu tindakan khususnya dana.
·         Dalam menyampaikan informasi, pesan harus mudah dimengerti dan dipahami oleh penerima.
·         Jika pesan memerlukan tindakan seperti cara menyusui yang benar, maka pemberi pesan harus memberikan contoh melalui alat media atau mempratekkan langsung pada ibu-ibu tersebut.

VII.            Komunikasi pada ibu meneteki
1.      Perubahan fisiologis:
Kelenjar susu mulai bekerja yang dipengaruhi hormon-hormon maka mulailah masa menyusui.
2.      Perubahan psikologis:
·         Ibu merasa terpisah dengan bayinya. Gejolak emosi yang muncul: ibu cemas dengan keselamatan bayinya, cemas tidak dapat memberi ASI dan perawatan cukup, tetapi ada juga yang sebaliknya benci kepada anaknya.
·         Kondisi yang mencemaskan dimana ibu takut menyusui bayinya, takut payudara jadi jelek, masalah lain karena ASI tidak keluar, takut bayi kurang makan/ASI

Pelaksanaan komunikasi:
Komunikasi ditekankan kepada peranan ibu untuk memberikan air susunya kepada bayi sebagai wujud pertalian kasih sayang.

VIII.            Komunikasi pada Akseptor Keluarga Berencana
1.      Perubahan fisiologis:
Kadang-kadang muncul gangguan-gangguan sebagai akibat dari efek samping kontrasepsi seperti pusing, BB bertambah, timbul flek-flek pada wajah, menstruasi banyak/tidak teratur/tidak menstruasi, keputihan, libido turun, dll.

2.      Perubahan psikologis:
Ibu measa cemas, takut akan masalah-masalah/keluhan-keluhan yang terjadi, ibu takut terjadi kegagalan dalam pemakaian alat kontrasepsi sehingga hamil.

Pelaksanaan komunikasi:
·         Komunikasi berorientasi kepada penjelasan efek samping pemakaian kontrasepsi dan cara mengatasinya.
·         Cara kerja alat kontrasepsi dan cara pemakaiannya

IX.            Komunikasi pada Wanita Masa Klimakteriumdan Menopause
1.      Perubahan fisiologis:
Kadang-kadang muncul gangguan-gangguan yang menyertai akibat menurunnya hormon estrogen dan progesteron, seperti haid tidak teratur, keringat dingin, rasa panas di wajah (hot flash), jantung berdebar-debar, sakit saat berhubungan seks (dispareuni), dll.

2.      Perubahan psikologis:
Ibu merasa cemas, takut akan masalah-masalah/keluhan-keluhan yang terjadi.
Pelaksanaan komunikasi:
·         Menjelaskan bahwa menopause adalah salah satu siklus kehidupan wanita.
·         Deteksi dini terhadap kelainan yang berhubungan dengan gangguan reproduksi pada usia subur maupun klimakterium.
·         Memberikan informasi tempat-tempat pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan khususnya kesehatan reproduksi.
·         Membantu klien dalam pengambilan keputusan.
·         Komunikasi pada menopause harus memperhatikan sifat-sifat dari menopause itu sendiri agar pesan yang disampaikan dapat dicerna dengan baik.
·         Karena fungsi dari organ tubuhnya mulai berkurang maka komunikasi bisa menggunakan alat bantu untuk mempermudah dalam memahami pesan yang disampaikan.

Komunikasi bisa menggunakan beberapa pendekatan diantaranya:
·         Pendekatan biologis: yaitu menitikberatkan pada perubahan-perubahan biologis yang terjadi pada menopause seperti anatomi fisiologi serta kondisi patologi yang bersifat mutipel dan kelainan fungsional pada menopause.
·         Pendekatan psikologis: yaitu menitikberatkan pada pemeliharaan dan pengembangan fungsi-fungsi kognitif, afektif, konatif, dan kepribadian secara optimal.
·         Pendekatan sosial budaya: yaitu menitikberatkan pada masalah sosial budaya yang mempengaruhi menopause.


X.            Komunikasi pada Wanita dengan Gangguan Reproduksi
1.      Perubahan fisiologis:
Muncul gangguan-gangguan dan keluhan yang berhubungan dengan organ reproduksi wanita, seperti keputihan, gangguan menstruasi, infertilitas, kanker/tumor di organ reproduksi, penyakit menular seksual, dll.
2.      Perubahan psikologis:
Ibu merasa cemas, takut akan masalah-masalah/keluhan-keluhan yang terjadi dan ketidaksiapan menerima kenyataan

Pelaksanaan komunikasi:
·         Menjelaskan penyebab/kemungkinan gangguan yang diderita ibu.
·         Deteksi dini terhadap kelaianan yang berhubungan dengan gangguan reproduksi.
·         Memberikan informasi tempat-tempat pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan atau rujukan khususnya kesehatan reproduksi.
·         Membantu klien dalam mengambil keputusan.
·         Memberikan support mental.


Saat-saat Sulit dalam Penerapan KIP/K
1.     Diam
Makna “diam” (tidak bersuara) antara lain :
·         Penolakan atau kebingungan klien.
·         Klien dan konselor telah mencapai akhir suatu ide dan semata-mata ragu mengatakan apa selanjutnya.
·         Kebingungan karena kecemasan atau kebencian.
·         Klien mengalami sakit dan tidak siap untuk bicara.
·         Klien mengharapkan sesuatu dari konselor.
·         Klien sedang memikirkan apa yang dikatakan.
·         Klien baru menyadari ucapannya dan merupakan ekspresi emosional sebelumnya.

Hal yang harus dipahami saat klien diam :
·         Klien tidak mau berbicara selama beberapa waktu.
·         Klien merasa cemas atau marah.
·         Bila terjadi di awal pertemuan setelah beberapa saat, konselor bisa mengatakan : “saya mengerti hal ini sulit untuk dibicarakan, biasanya pada pertemuan pertama klien-klien saya juga merasa begitu. Apakah ibu merasa cemas?”
·         Bila klien diam karena marah konselor dapat berkata : “bagaimana perasaan ibu sekarang?”, diikuti hening beberapa saat, pandang klien dan perlihatkan sikap tubuh yang menunjukkan perhatian.
·         Bila diam di tengah pertemuan konselor harus memperhatikan konteks pembicaraan dan menilai mengapa hal ini terjadi. Lebih baik menunggu beberapa saat, beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaan atau pikirannya, meskipun tidak nyaman.
·         Bila klien diam karena berfikir tidak perlu berusaha memecah kesunyian atau menunjukkan sikap tidak menerima.

2.     Klien Menangis
Tenangkan klien dengan menyentuh badan (menepuk-nepuk bahu atau memegang tangan klien) secara hati-hati.

3.     Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien
·         Biasa terjadi jika konselor tidak dapat memecahkan atau membantu menyelesaikan masalah seperti harapan klien.
·         Misalnya pada kasus remaja putri yang ingin aborsi.
·         Konselor dapat mengatakan pada klien bahwa dia akan selalu menyediakan waktu untuk klien menghadapi saat-saat sulit meskipun konselor tidak dapat mengubah keadaan.



4.     Konselor melakukan kesalahan
Hal terpenting untuk menciptakan hubungan baik adalah jujur. Mengakui bahwa konselor salah dan minta maaf adalah cara untuk menghargai klien.

5.     Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
Konselor dapat mengatakan bahwa ia tidak dapat menjawab pertanyaan klien, tetapi akan berusaha mencari informasi tersebut untuk klien.

6.     Klien menolak bantuan konselor
Ditunjukkan dengan klien enggan bicara. Tekankan hal positif, paling tidak klien telah datang dan berkenalan dengan konselor, mungkin klien mau mempertimbangkan kembali. Sarankan untuk melakukan pertemuan lanjutan.

7.     Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor
Konselor sebaiknya mengatasi dengan mengatakan : “ orang kadang awalnya merasa lebih nyaman berbicara dengan seseorang yang sama jenis kelaminnya, menurut pengalaman saya semakin lama hal itu semakin tidak penting apabila kita semakin mengenal. Bagaimana kalau kita coba lanjutkan dan lihat bagaimana nantinya.”. biasanya klien menerima, dan masalah ini hilang dengan sendirinya bila konselor bersikap penuh perhatian, menghargai klien dan tidak menilai klien.

8.     Waktu yang dimiliki konselor terbatas.
Konselor memberikan informasi beberapa saat sebelum pertemuan, meminta maaf, menjelaskan sebab keterbatasan waktunya, dan menunjukkan konselor berharap bertemu klien pada pertemuan selanjutnya.

9.     Konselor tidak menciptakan hubungan yang baik
Konselor meminta pendapat kepada teman sesame petugas klinik untuk mengamati pertemuan dan melihat dimana letak kesulitannya, apakah ada sikap klien yang membuat konselor merasa ditolak klien.
10.Klien dan konselor sudah saling mengenal
Konselor melayani seperti pada umumnya, tekankan bahwa kerahasiaan akan tetap terjaga, jelaskan bahwa konselor akan bersikap sedikit berbeda dengan sikap diluar konseling terhadap klien sebagai temannya.

11.Klien berbicara terus dan yg dibicarakan tidak sesuai topik
Potong pembicaraannya setelah beberapa saat bila klien terus menerus mengulang pembicaraannya.

12.Klien bertanya tentang hal-hal pribadi konselor
Nyatakan pada klien bahwa cerita konselor tentang dirinya tidak akan membantu klien, oleh karena itu lebih baik tidak bercerita.

13.Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan.
Sebaiknya jujur kepada klien, terutama bila konselor bereaksi secara emosional pada klien, karena klien akan mengamati hal itu.


14.Keadaan kritis
Komunikasikan dengan tegas tapi sopan keadaan darurat kepada keluarga. Berikan penjelasan dengan singkat tapi jelas langkah-langkah yang harus dilakukan bersama untuk mengatasi keadaan.

Kesulitan Saat Konseling
Beberapa kesulitan tersembunyi yang disadari oleh konselor, terutama konselor pemula. Antara lain :
1.      Berusaha terlalu banyak dan terlalu dini
2.      Lebih banyak mengajar daripada membina hubungan
3.      Penerimaan yang berlebihan
4.      Menampilkan masalah konseling pada orang yang tidak berpengalaman.
5.      Kecenderungan untuk menampilkan kepribadian konseling.
6.      Merenungkan setelah sesi yang sulit.

Upaya untuk mengatasi kesulitan:
1.      Tiap individu memahami dirinya, dengan memahami diri sendiri maka akan bisa mengatasi kesulitan-kesulitan bidan sendiri.
2.      Untuk memperlancar komunikasi siapkan materi, bahan, alat untuk mempermudah penerimaan klien.
3.      Menguasai ilmu komunikasi, sehingga dapat melakukan konseling pada semua klien dengan bermacam karakter dan keterbatasan mereka.
4.      Meletakkan kearifan sebagai dasar kepribadian konselor aktif.
Kearifan merupakan satu perangkat cirri kognitif dan afektif tertentu yg secara langsung pada ketrampilan dan pemahaman hidup. Karakteristiknya meliputi :
a)     Aspek afektif dan kesadaran meliputi empati, kepedulian, pengenalan rasa, deotomatisasi (menolak kecenderungan kebiasaan, perilaku dan pola berfikir otomatik, menekankan kesadaran tindakan dan pilihan yang bertanggungjawab).
b)     Aspek kognitif meliputi penalaran dialetik (mengenal konteks, situasi, berorientasi pada perubahan yang bermanfaat.



Strategi Membantu Klien Dalam Pengambilan Keputusan

Kemampuan dalam mengambil keputusan adalah sangat penting bagi klien untuk menyelesaikan masalah kegawatdaruratan terutama yang berhubungan dengan kebidanan. Dalam konseling pengambilan keputusan mutlak diambil oleh klien, bidan hanya membantu agar keputusan yang diambil klien tepat.
Empat strategi membantu klien dalam mengambil keputusan :
1.      Membantu klien meninjau kemungkinan pilihannya. Beri kesempatan klien untuk melihat lagi beberapa alternative pilihannya, agar tidak menyesal atau kecewa terhadap pilihannya.
2.      Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan, dengan melihat kembali keuntungan atau konsekuensi positif dan kerugiannya atau konsekuensi negatif.
3.      Membantu klien mengevaluasi pilihan. Setelah klien menetapkan pilihan, bantu klien mencermati pilihannya.
4.      Membantu klien menyusun rencana kerja, untuk menyelesaikan masalahnya.
Pengambilan keputusan yang baik harus mempertimbangkan :
·         Kondisi
·         Kehendak
·         Konsekuensinya

Langkah dalam pengambilan keputusan yang baik :
1.      Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien.
2.      Susunlah daftar kehendak atau pilihan keputusan.
3.      Untuk setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya (POSITIF dan NEGATIF).

Hal-hal yang perlu ditekankan kepada klien dalam pengambilan keputusan.
1.      Hati-hati dan bersikap bijaksana dalam pengambilan keputusan karena berkaitan dengan masalah kehamilan, persalinan dan masa nifas. Pengambilan keputusan dibuat setelah klien diberi informasi secukupnya untuk menimbang pilihan sesuai dengan situasinya.
2.      Bantu klien dalam pengambilan keputusan dengan memberikan saran yang sesuai dengan riwayat kesehatannya, keinginan pribadi dan situasi.
3.      Keputusan merupakan hak dan menjadi tanggung jawab klien.
4.      Konseling bukan proses informasi, melainkan informasi setelah konselor memperoleh data atau informasi tentang keadaan dan kebutuhan klien dan informasi yang diberikan sesuai dengan kondisi klien dan kebutuhannya.
Faktor Yang Mempengaruhi
1.      Fisik
Pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan fisik (tidak berat dan tidak memforsir tenaga). Menghindari tingkah laku yg menimbulkan ketidaksenangan dan memilih tingkah laku yg menimbulkan kesenangan.
2.      Emosional
Biasa terjadi pada kaum perempuan.
Sikap subjektivitas akan mempengaruhi keputusan yang diambil.
3.      Rasional
Biasa didasarkan pada pengetahuan (orang terpelajar dan intelektual).
Orang mendapat informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
4.      Praktikal
Didasarkan kepada keterampilan individu dan kemampuan melaksanakannya (untuk menilai potensi diri dan kepercayaan diri)
.
5.      Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan social.
Hubungan antara satu orang dan orang lain mempengaruhi tindakan individu.
6.      Struktural
Didasarkan pada lingkup social, ekonomi dan politik.
Lingkungan bisa mendukung maupun mengkritik.

Tipe Pengambilan Keputusan (Saraswati I, Tarigan L.H, 2002)
1.      Pengambilan keputusan untuk tidak berbuat apa-apa karena ketidaksanggupan atau merasa tidak sanggup.
2.      Pengambilan keputusan intuitif, sifatnya segera, langsung diputuskan, karena keputusan tersebut dirasakan paling tepat.
3.      Pengambilan keputusan yang terpaksa, karena segera dilaksanakan.
4.      Pengambilan keputusan yang reaktif. Sering kali dilakukan dalam situasi marah dan tergesa-gesa.
5.      Pengambilan keputusan yang ditangguhkan, dialihkan pada orang lain yang bertanggung jawab.
6.      Pengambilan keputusan secara berhati-hati, dipikirkan baik-baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.

Pemberian Informasi Efektif
Pemberian informasi efektif bila:
1.      Informasi yg diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam mengambil keputusan.
2.      Informasi disesuaikan dengan situasi klien, dan mudah dimengerti.
3.      Diberikan dengan memperhatikan hal-hal berikut :
a)     Singkat dan tepat (pilih hal-hal penting yg perlu diingat klien)
b)     Menggunakan bahasa sederhana
c)      Gunakan alat bantu visual sewaktu menjelaskan.
d)     Beri kesempatan klien bertanya dan minta klien mengulang hal-hal penting



DAFTAR PUSTAKA

Tyastuti S, dkk. 2008. Komunikasi dan Konseling dalam Pelayanan Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya

0 Comments:

Post a Comment



Minggu, 09 Oktober 2011

Komunikasi dan Konseling dalam Pelayanan Kebidanan

Diposkan oleh Meysha Puteri Sajidien di 12.26
Macam-Macam Klien dalam Asuhan Kebidanan

Sesuai dengan wewenang dan lingkup pelayanan kebidanan, maka konseling dalam bidang kebidanan meliputi:
1.       Komunikasi pada bayi dan balita
2.       Komunikasi pada remaja
3.       Komunikasi pada calon orang tua
4.       Komunikasi pada wanita hamil (masa antenatal)
5.       Komunikasi pada ibu bersalin (masa natal)
6.       Komunikasi pada ibu nifas
7.       Komunikasi pada ibu meneteki
8.       Komunikasi pada akseptor keluarga berencana
9.       Komunikasi pada wanita masa klimakterium dan menopause
10.   Komunikasi pada wanita dengan gangguan reproduksi

Komunikasi terapeutik memegang peranan penting dalam membantu pasien memecahkan masalah yang dihadapi. Komunikasi terapeutik didefinisikan sebagai komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatan dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
Tujuan komunikasi terapeutik adalah:
1)      Membantu pasien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran.
2)      Membantu mengambil tindakan yang efektif untuk pasien.
3)      Membantu memengaruhi orang lain, lingkungan fisik, dan diri sendiri

Komunikasi terapeutik pada klien dalam asuhan kebidanan:
I.            Komunikasi pada bayi dan balita
Komunikasi bayi dimulai sejak dia lahir ke dunia, dimulai ketika bayi mulai menangis sampai bayi dapat bicara lancar, adapun prosesnya dari bayi menangis sampai bisa berkata-kata belum dipahami secara pasti.
Fase pertumbuhan dan perkembangan komunikasi pada bayi meliputi:
a)      Fase prelinguistic (fase sebelum bicara)
Suara pertama yang dikeluarkan bayi baru lahir adalah tangis sebagai reaksi terhadap perubahan tekanan udara dan suhu luar uterin. Kebutuhan dikomunikasikan lewat tangis sampai usia satu tahun, pada saat usia anak dua sampai tiga minggu seharuanya orang tua sudah dapat membedakan tangis bayi. Biasanya bayi menangis karena lapar, pantat basah, kesakitan atau minta perhatian. Untuk dapat membedakan kita harus mengenali tangisan bayi:
·         Tangis lapar biasanya bayi menangis dengan suara mendatar dan meningkat sesuai kebutuhan.
·         Tangis kesakitan, bayi mengeluarkan teriakan yang mendadak karena bayi terkejut.
·         Tangis tidak nyaman atau minta perhatian bayi akan menangis yang berlangsung terus menerus
b)      Kata pertama
Kata pertama mungkin tidak disadari oleh orang tuanya karena anak banyak akal untuk mengerti perlu mendengar apa yang dikatakan anak sehubungan dengan apa yang dikerjakan. Missal: “mam” bisa berarti mama, bisa juga berarti makan. Tahap perkembangan anak pada lingkup kata pertama, antara lain:
·         Usia 10 – 12 bulan timbul pengertian pasif dari bahasa.
Bayi memberi respon terhadap kata yang familier misalnya ada yang menyebut ibu maka dia akan berusaha mencari ibunya.
·         Bicara sesungguhnya mulai usia 12 – 18 bulan.
Satu kata mengandung arti satu kalimat, misal : mengatakan makan berarti saya mau makan.
·         Menggunakan empat kata pada usia 15 bulan.
Sepuluh kata pada usia delapan belas bulan.

c)      Kalimat pertama
Kalimat anak seperti juga kata pertama, punya arti pribadi dan tidak ikut aturan tata bahasa, misal anak bilang “makan” berarti “aku mau makan”. Jadi orang tua atau orang disekitarnya harus tanggap terhadap kata-kata anak tersebut. Hal-hal yang berkaitan dengan kalimat pertama meliputi:
·         Usia 2 tahun anak mulai menyusun kata.
·         Disebut periode permulaan pembicaraan.
·         Kalimat anak mempunyai arti pribadi, tidak ikut aturan.
·         Kadang-kadang disusun kombinasi kata yang aneh.
d)     Kemampuan bicara egosentris
Kemampuan bicara egosentris (berpusat pada diri sendiri) dibedakan tiga macam:
·         Repetitif (pengulangan). Kata yang didengar diulang-ulang.
·         Monolog (berbicara satu arah) biasanya pada anak pra sekolah. Anak bicara sendiri memainkan banyak peran dengan berkata-kata sendiri.
·         Monolog kolektif. Beberapa anak berkumpul dalam suatu tempat tapi mereka bicara sendiri-sendiri, biasanya asyik memainkan mainannya sendiri.

e)      Perkembangan semantik
Semantik adalah pengetahuan yang mempelajari arti dari kata pada bahasa yang diajarkan. Anak pertama kali memahami arti konkrit dan jenis kata konkrit kemudian mulai mengetahui arti dan jenis kata abstrak. Misalnya anak akan lebih memahami kucing yang bisa dilihat daripada pahit,manis, dll. Kata abstrak dipelajari setelah pada masa pra sekolah. Kata yang sulit untuk anak pra sekolah adalah kata yang selain punya arti fisik juga punya arti psikologis. Contohnya: manis bisa berarti sikap, tapi juga bisa berarti rasa.

Prinsip komunikasi yang efektif pada anak:
1.       Mengikuti perkembangan psikologis anak.
2.       Kontak kasih sayang orang tua dapat memperkuat kepribadian anak.
3.       Pentingnya dalam komunikasi: belaian, dukungan dan sentuhan akan menimbulkan rasa senang dan bahagia.
4.       Dorongan bidan yaitu dengan membantu ibu serta pihak lain dalam memberikan dukungan rangsang aktif dalam bahsa dan emosi.

II.            Komunikasi pada remaja
Merujuk pada Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, remaja adalah mereka yang berusia 10 sampai 18 tahun. Sedangkan menurut World Health Organization (WHO), yang dimaksud remaja adalah laki-laki dan perempuan yang berusia 18 sampai 24 tahun.
Remaja biasanya merupakan masa untuk mencari jati diri dan pengakuan. Sehingga dalam situasi psikologis yang masih labil. Bila tidak diikuti dengan informasi-informasi yang benar maka akan menimbulkan berbagai masalah yang menyangkut kenakalan remaja.
Tujuan komunikasi pada remaja adalah memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi yang terjadi. Bidan perlu menjalin hubungan komunikasi terbuka, mengungkapkan hal-hal yang belum diketahui oleh remaja. Permasalahan yang dapat diselesaikan dalam bentuk komunikasi terapeutik pada remaja misalnya; perubahan fisik/ biologis sesuai usia, perubahan emosi dan perilaku remaja, kehamilan pada remaja, narkotika, kenakalan remaja dan hambatan dalam belajar.
Konseling yang diberikan pada anak laki – laki dan perempuan pada masa remaja bertujuan memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi yang terjadi pada usia remaja. Pelaksanaan konseling pada remaja menggunakan pendekatan kelompok.
Bidan perlu menjalin hubungan komunikasi terbuka dan mengungkapkan hal-hal yang belum diketahui oleh remaja. Bidan dapat melakukan komunikasi terapeutik pada remaja dengan menitikberatkan masalah:
·         Perubahan fisik/biologis sesuai usia
·         Perubahan emosi dan perilaku remaja
·         Kehamilan pada remaja
·         Narkotika
·         Kenakalan remaja
·         Hambatan dalam belajar

Komunikasi yang efektif pada remaja harus memperhatikan hal-hal yang menyangkut dengan remaja. Bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa baik secara jasmani maupun rohani. Jadi dalam komunikasi dengan remaja lebih memperhatikan:
·         Kenyamanan remaja dalam menerima informasi
·         Memperhatikan cara pandang remaja dalam mensikapi pesan yang disampaikan.
·         Memfokuskan pada persoalan yang akan disampaikan.
·         Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan nyaman untuk didengar.
·         Menjalin sikap terbuka dan menumbuhkan kepercayaan pada remaja.
·         Bisa menguasai dan mengendalikan emosi pada remaja saat penyampaian pesan.
·         Menjalin keakraban dengan remaja.
·         Bidan sebagai konselor dalam masalah tersebut perlu melakukan pelayanan konseling, baik pada keluarga dalam arti orang tua maupun remaja yang bermasalah.

III.            Komunikasi pada calon orang tua
Konseling pada calon orangtua membantu pemahaman diri untuk menjadi orang tua, baik sebagai ayah maupun sebagai ibu. Perubahan status kehidupan sesuai dengan perkembangan terjadi secara alami. Salah satu peran bidan ketika menghadapi klien adalah melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling kebidanan. Untuk memperjelas arah konseling kebidanan pada calon orang tua, perlu adanya pemahaman terlebih dahulu tentang hal – hal sebagai berikut :
·         Menjadi orang tua
Menjadi orang tua adalah suatu proses kehidupan yang bermula dari terbentuknya pasangan suami istri menjadi keluarga dan berlanjut dengan adanya keturunan.
·         Tanggung jawab laki-laki sebagai kepala keluarga dan sebagai ayah.
Dalam perubahan status menjadi ayah atau kepala keluarga, merupakan suatu keadaan yang membuat laki-laki secara psikologis harus mampu membagi kasih terhadap istri dan anak. Memenuhi kebutuhan keluarga secara fisik dan psikologis, secara moral dan material.
·         Tanggung jawab perempuan sebagai ibu dalam keluarga
Peran ibu dalam keluarga sangat kompleks. Ibu sebagai penerus keturunan, pendidik dalam keluarga dan sebagai pendamping suami serta sebagai pelaksana, menjalankan perekonomian dalam keluarga bersama suami.

Bidan dapat melakukan komunikasi terapeutik pada calon ibu dengan lebih menitikberatkan kepada:
1.      Memberikan penjelasan secara fisiologis peristiwa yang disebut menstruasi.
2.      Memberikan bimbingan tentang perawatan diri sehubungan dengan peristiwa menstruasi.
3.      Member bimbingan tentang persiapan perkawinan, dihubungkan dengan NKKBS/keluarga berkualitas.
4.      Persyaratan-persyaratan kesehatan yang sangat menentukan sebagai calon ibu.
5.      Memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi dan peran yang terjadi.
6.      Menikah dan membentuk keluarga baru membutuhkan konseling.



Konseling pada orang tua karena berperan sebagai orang tua yang baik:
1.      Butuh penyesuaian dalam menghadapi kehidupan dan lingkungan baru (dua keluarga menjadi satu).
2.      Menjadi orang tua merupakan proses kehidupan individu.
3.      Masalah perbedaan pasutri (pasangan suami istri).
4.      Tanggung jawab laki-laki (ayah/kepala keluarga)
5.      Tanggung jawab perempuan sebagai penerus keturunan, pendidik, pendamping suami, ekonomi keluarga.
Masalah-masalah yang dihadapi:
·         Kesehatan
·         Pendidikan
·         Hubungan antar dan inter keluarga
·         Psikososial (norma dan tata nilai)

IV.            Komunikasi pada wanita hamil (masa antenatal)
Konseling pada wanita hamil terutama ditujukan pada ibu dengan kehamilan pertama. Konseling yang diberikan oleh bidan pada trimester pertama berkenaan dengan perkembangan janin sesuai dengan usia kehamilan, serta perubahan yang terjadi pada ibu. Konseling pada kehamilan trimester ketiga berfokus pada intervensi yang diberikan pada klien berkenaan dengan keadaan janin dalam rahim, posisi janin dan letak janin. Persiapan persalinan baik yang normal maupun yang tidak normal didahului dengan penjelasan tanda persalinan.
1.      Peristiwa fisiologis:
Terjadi konsepsi (pertemuan sperma dan sel telur), ibu tidak menstruasi, terjadi perubahan hormonal, hal ini yang menyebabkan kadang ibu mengalami pusing, mual, tidak nafsu makan, peningkatan suhu tubuh dan nampak cloasma gravidarum, BB bertambah, pembesaran uterus, sehingga tadinya langsing menjadi montok, gendut, dan gerakan lambat.
2.      Perubahan psikologis:
Kehamilan merupakan arti emosional pada setiap wanita, yang biasanya disertai perubahan-perubahan kejiwaan. Peristiwa-peristiwa kejiwaan yang biasanya menyertai ibu hamil antara lain peristiwa ngidam dibarengi dengan emosi-emosi yang kuat karena dorongan hormonal, ibu jadi peka, mudah tersinggung, karena hamil umumnya menambah intensitas tekanan batin pada psikisnya, tetapi dapat juga dijumpai ibu yang bangga dengan kehamilannya dan bergairah menyambut kehadiran bayinya, bila merupakan peristiwa pertama. Disamping perasaan gembira, rasa cemas pun timbul apa bayinya cacat/sehat, apa melahirkan dengan lancar. Hal ini biasanya diperberat dengan kasus-kasus rumah tangga.
Hal-hal yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada ibu hamil adalah:
·         Ibu hamil pertama belum punya pengalaman, contoh adanya pergerakan anak, kelainan-kelainan kulit.
·         Anak yang tidak diharapkan, contoh pernah mau digugurkan tetapi tidak gugur, takut anaknya cacat, kehamilan diluar nikah.
·         Persalinan lalu tidak menyenangkan, contih anak lahir tidak abnormal, anak meninggal, perdarahan, terlalu mengharap jenis kelamin tertentu, umur ibu resiko tinggi, ibu menderita penyakit tertentu, tidak mendapat dukungan suami atau keluarga yang lain, dll.

Pelaksanaan komunikasi terapeutik:
Bidan yang senantiasa berhubungan dengan bumil diharapkan mampu melalaui tindakan pemeriksaan, penyuluhan, dan segala bentuk kontak langsung dengan berbagai metode maupun bentuk hubungan. Mengadakan komunikasi terapeutik.
·         Komunikasi terapeutik diharapkan dapat merendam pemunculan faktor psikososial yang berdampak negatif terhadap kehamilan.
·         Bidan diharapkan membantu ibu sejak awal kehamilannya untuk mengorganisasikan perasaannya, pikirannya, kekuatannya untuk menerima, memelihara kehamilannya sehingga dapat melahirkan dengan lancar.

Prinsip komunikasi pada ibu hamil:
·         Pesan yang disampaikan sesuai dengan kondisi ibu hamil.
·         Informasi yang diberikan menyangkut tentang kehamilan dan persiapan melahirkan. Seperti ke hal-hal yang menyangkut kesehatan serta pelayanan kesehatan yang diperlukan.
·         Menciptakan kenyamanan dan keakraban saat menyampaikan pesan.
·         Tidak membuat penerima stress dengan info yan disampaikan

V.            Komunikasi pada ibu bersalin (masa natal)
Kelahiran merupakan proses fisiologis yang diwarnai komponen psikologis. Akan tetapi peristiwa yang dialami tiap orang berbeda.

1.      Perubahan fisiologis:
·         Semakin tua kehamilan ibu semakin merasakan gerakan-gerakan bayi, perut makinbesar, pergerakan ibu semakin tidak bebas, ibu tidak nyaman. Kadang-kadang terjadi gangguan kencing, kaki bengkak.
·         Otot-otot panggul dan jalan lahir mekar
·         Kontraksi uterus dipengaruhi syaraf-syaraf sympati, parasympati, syaraf lokal otot uterus

2.      Perubahan psikologis:
·         Minggu-minggu terakhir dipengaruhi perasaan/emosi dan ketegangan.
·         Ibu cemas apa bayinya cacat, dapat lahir lancar.
·         Ibu takut darah, nyeri, takut mati
·         Kecemasan ayah hampir sama dengan kecemasan ibu, bedanya ayah tidak langsung merasakan efek kehamilan.
Pelaksanaan komunikasi terapeutik pada ibu melahirkan:
·         Melihat kecemasan pada ibu dan suami maka orientasi pelayanan bukan hanya ditujukan pada ibu tetapi juga pada suami. Ibu dituntun untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang proses kelahiran. Suami dibesarkan hatinya, dijelaskan apa yang terjadi pada istrinya.
·         Komunikasi pada ibu bersalin difokuskan pada teknik-teknik bersalin seperti teknik mengejan atau mengatur pernafasan dan lain-lain.
·         Pemberian pesan harus sabar dalam memberikan informasi pada saat ibu bersalin sehingga ibu yang sedang bersalin merasa nyaman dan tanggap dengan isi pesan yang diberikan sehingga bisa mempratekkan sesuai dengan apa yang diharapkan.

VI.            Komunikasi pada Ibu Nifas
1.      Perubahan fisiologis:
·         Terjadi proses involusio, keluar lochea, perut ibu kelihatan besar.
2.      Perubahan psikologis:
Muncul berbagai ekspresi akibat berlalunya peristiwa menentukan dalam hidupnya dan merupakan peristiwa mengesankan karena:
·         Ibu merasa bangga karena telah mengalami kesulitan, kecemasan, kesakitan, penderitaan dengan tenaganya sendiri.
·         Ibu bahagia karena telah mendapat relasi dengan bayinya, ingin cepat tau jenis kelamin, bentuk bayinya.
Disamping itu muncul gejala-gejala psikis disebabkan:
·         Ibu mengalami kesenduan, kepedihan hati, kekecewaan dan penderitaan batin missal karena anak hasil hubungan luar nikah.
·         Jenis kelamin anak tidak sesuai harapan, bayi cacat sehingga timbul rasa tidak cinta anaknya.
·         Ibu-ibu yang telah cerai, kelahiran anak merupakan peristiwa tidak menyenangkan.


Pelaksanaan komunikasi terapeutik:
·         Bidan harus hati-hati melakukan komunikasi karena kestabilan emosi belum pulih seperti semula.
·         Orientasi pembicaraan lebih berkisar penerimaan terhadap bayi serta kondisi fisik dan psikis ibu nifas

Prinsip komunikasi pada ibu nifas:
·         Komunikasi difokuskan pada permasalahan kasusnya masa nifas seperti cara menjaga kebersihan, perawatan bagi dan juga kesehatan ibu dan anak. Serta pemulihan organ-organ reproduksi.
·         Disesuaikan dengan kondisi ibu jika ada informasi atau pesan yang memerlukan suatu tindakan khususnya dana.
·         Dalam menyampaikan informasi, pesan harus mudah dimengerti dan dipahami oleh penerima.
·         Jika pesan memerlukan tindakan seperti cara menyusui yang benar, maka pemberi pesan harus memberikan contoh melalui alat media atau mempratekkan langsung pada ibu-ibu tersebut.

VII.            Komunikasi pada ibu meneteki
1.      Perubahan fisiologis:
Kelenjar susu mulai bekerja yang dipengaruhi hormon-hormon maka mulailah masa menyusui.
2.      Perubahan psikologis:
·         Ibu merasa terpisah dengan bayinya. Gejolak emosi yang muncul: ibu cemas dengan keselamatan bayinya, cemas tidak dapat memberi ASI dan perawatan cukup, tetapi ada juga yang sebaliknya benci kepada anaknya.
·         Kondisi yang mencemaskan dimana ibu takut menyusui bayinya, takut payudara jadi jelek, masalah lain karena ASI tidak keluar, takut bayi kurang makan/ASI

Pelaksanaan komunikasi:
Komunikasi ditekankan kepada peranan ibu untuk memberikan air susunya kepada bayi sebagai wujud pertalian kasih sayang.

VIII.            Komunikasi pada Akseptor Keluarga Berencana
1.      Perubahan fisiologis:
Kadang-kadang muncul gangguan-gangguan sebagai akibat dari efek samping kontrasepsi seperti pusing, BB bertambah, timbul flek-flek pada wajah, menstruasi banyak/tidak teratur/tidak menstruasi, keputihan, libido turun, dll.

2.      Perubahan psikologis:
Ibu measa cemas, takut akan masalah-masalah/keluhan-keluhan yang terjadi, ibu takut terjadi kegagalan dalam pemakaian alat kontrasepsi sehingga hamil.

Pelaksanaan komunikasi:
·         Komunikasi berorientasi kepada penjelasan efek samping pemakaian kontrasepsi dan cara mengatasinya.
·         Cara kerja alat kontrasepsi dan cara pemakaiannya

IX.            Komunikasi pada Wanita Masa Klimakteriumdan Menopause
1.      Perubahan fisiologis:
Kadang-kadang muncul gangguan-gangguan yang menyertai akibat menurunnya hormon estrogen dan progesteron, seperti haid tidak teratur, keringat dingin, rasa panas di wajah (hot flash), jantung berdebar-debar, sakit saat berhubungan seks (dispareuni), dll.

2.      Perubahan psikologis:
Ibu merasa cemas, takut akan masalah-masalah/keluhan-keluhan yang terjadi.
Pelaksanaan komunikasi:
·         Menjelaskan bahwa menopause adalah salah satu siklus kehidupan wanita.
·         Deteksi dini terhadap kelainan yang berhubungan dengan gangguan reproduksi pada usia subur maupun klimakterium.
·         Memberikan informasi tempat-tempat pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan khususnya kesehatan reproduksi.
·         Membantu klien dalam pengambilan keputusan.
·         Komunikasi pada menopause harus memperhatikan sifat-sifat dari menopause itu sendiri agar pesan yang disampaikan dapat dicerna dengan baik.
·         Karena fungsi dari organ tubuhnya mulai berkurang maka komunikasi bisa menggunakan alat bantu untuk mempermudah dalam memahami pesan yang disampaikan.

Komunikasi bisa menggunakan beberapa pendekatan diantaranya:
·         Pendekatan biologis: yaitu menitikberatkan pada perubahan-perubahan biologis yang terjadi pada menopause seperti anatomi fisiologi serta kondisi patologi yang bersifat mutipel dan kelainan fungsional pada menopause.
·         Pendekatan psikologis: yaitu menitikberatkan pada pemeliharaan dan pengembangan fungsi-fungsi kognitif, afektif, konatif, dan kepribadian secara optimal.
·         Pendekatan sosial budaya: yaitu menitikberatkan pada masalah sosial budaya yang mempengaruhi menopause.


X.            Komunikasi pada Wanita dengan Gangguan Reproduksi
1.      Perubahan fisiologis:
Muncul gangguan-gangguan dan keluhan yang berhubungan dengan organ reproduksi wanita, seperti keputihan, gangguan menstruasi, infertilitas, kanker/tumor di organ reproduksi, penyakit menular seksual, dll.
2.      Perubahan psikologis:
Ibu merasa cemas, takut akan masalah-masalah/keluhan-keluhan yang terjadi dan ketidaksiapan menerima kenyataan

Pelaksanaan komunikasi:
·         Menjelaskan penyebab/kemungkinan gangguan yang diderita ibu.
·         Deteksi dini terhadap kelaianan yang berhubungan dengan gangguan reproduksi.
·         Memberikan informasi tempat-tempat pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan atau rujukan khususnya kesehatan reproduksi.
·         Membantu klien dalam mengambil keputusan.
·         Memberikan support mental.


Saat-saat Sulit dalam Penerapan KIP/K
1.     Diam
Makna “diam” (tidak bersuara) antara lain :
·         Penolakan atau kebingungan klien.
·         Klien dan konselor telah mencapai akhir suatu ide dan semata-mata ragu mengatakan apa selanjutnya.
·         Kebingungan karena kecemasan atau kebencian.
·         Klien mengalami sakit dan tidak siap untuk bicara.
·         Klien mengharapkan sesuatu dari konselor.
·         Klien sedang memikirkan apa yang dikatakan.
·         Klien baru menyadari ucapannya dan merupakan ekspresi emosional sebelumnya.

Hal yang harus dipahami saat klien diam :
·         Klien tidak mau berbicara selama beberapa waktu.
·         Klien merasa cemas atau marah.
·         Bila terjadi di awal pertemuan setelah beberapa saat, konselor bisa mengatakan : “saya mengerti hal ini sulit untuk dibicarakan, biasanya pada pertemuan pertama klien-klien saya juga merasa begitu. Apakah ibu merasa cemas?”
·         Bila klien diam karena marah konselor dapat berkata : “bagaimana perasaan ibu sekarang?”, diikuti hening beberapa saat, pandang klien dan perlihatkan sikap tubuh yang menunjukkan perhatian.
·         Bila diam di tengah pertemuan konselor harus memperhatikan konteks pembicaraan dan menilai mengapa hal ini terjadi. Lebih baik menunggu beberapa saat, beri kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaan atau pikirannya, meskipun tidak nyaman.
·         Bila klien diam karena berfikir tidak perlu berusaha memecah kesunyian atau menunjukkan sikap tidak menerima.

2.     Klien Menangis
Tenangkan klien dengan menyentuh badan (menepuk-nepuk bahu atau memegang tangan klien) secara hati-hati.

3.     Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien
·         Biasa terjadi jika konselor tidak dapat memecahkan atau membantu menyelesaikan masalah seperti harapan klien.
·         Misalnya pada kasus remaja putri yang ingin aborsi.
·         Konselor dapat mengatakan pada klien bahwa dia akan selalu menyediakan waktu untuk klien menghadapi saat-saat sulit meskipun konselor tidak dapat mengubah keadaan.



4.     Konselor melakukan kesalahan
Hal terpenting untuk menciptakan hubungan baik adalah jujur. Mengakui bahwa konselor salah dan minta maaf adalah cara untuk menghargai klien.

5.     Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
Konselor dapat mengatakan bahwa ia tidak dapat menjawab pertanyaan klien, tetapi akan berusaha mencari informasi tersebut untuk klien.

6.     Klien menolak bantuan konselor
Ditunjukkan dengan klien enggan bicara. Tekankan hal positif, paling tidak klien telah datang dan berkenalan dengan konselor, mungkin klien mau mempertimbangkan kembali. Sarankan untuk melakukan pertemuan lanjutan.

7.     Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor
Konselor sebaiknya mengatasi dengan mengatakan : “ orang kadang awalnya merasa lebih nyaman berbicara dengan seseorang yang sama jenis kelaminnya, menurut pengalaman saya semakin lama hal itu semakin tidak penting apabila kita semakin mengenal. Bagaimana kalau kita coba lanjutkan dan lihat bagaimana nantinya.”. biasanya klien menerima, dan masalah ini hilang dengan sendirinya bila konselor bersikap penuh perhatian, menghargai klien dan tidak menilai klien.

8.     Waktu yang dimiliki konselor terbatas.
Konselor memberikan informasi beberapa saat sebelum pertemuan, meminta maaf, menjelaskan sebab keterbatasan waktunya, dan menunjukkan konselor berharap bertemu klien pada pertemuan selanjutnya.

9.     Konselor tidak menciptakan hubungan yang baik
Konselor meminta pendapat kepada teman sesame petugas klinik untuk mengamati pertemuan dan melihat dimana letak kesulitannya, apakah ada sikap klien yang membuat konselor merasa ditolak klien.
10.Klien dan konselor sudah saling mengenal
Konselor melayani seperti pada umumnya, tekankan bahwa kerahasiaan akan tetap terjaga, jelaskan bahwa konselor akan bersikap sedikit berbeda dengan sikap diluar konseling terhadap klien sebagai temannya.

11.Klien berbicara terus dan yg dibicarakan tidak sesuai topik
Potong pembicaraannya setelah beberapa saat bila klien terus menerus mengulang pembicaraannya.

12.Klien bertanya tentang hal-hal pribadi konselor
Nyatakan pada klien bahwa cerita konselor tentang dirinya tidak akan membantu klien, oleh karena itu lebih baik tidak bercerita.

13.Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan.
Sebaiknya jujur kepada klien, terutama bila konselor bereaksi secara emosional pada klien, karena klien akan mengamati hal itu.


14.Keadaan kritis
Komunikasikan dengan tegas tapi sopan keadaan darurat kepada keluarga. Berikan penjelasan dengan singkat tapi jelas langkah-langkah yang harus dilakukan bersama untuk mengatasi keadaan.

Kesulitan Saat Konseling
Beberapa kesulitan tersembunyi yang disadari oleh konselor, terutama konselor pemula. Antara lain :
1.      Berusaha terlalu banyak dan terlalu dini
2.      Lebih banyak mengajar daripada membina hubungan
3.      Penerimaan yang berlebihan
4.      Menampilkan masalah konseling pada orang yang tidak berpengalaman.
5.      Kecenderungan untuk menampilkan kepribadian konseling.
6.      Merenungkan setelah sesi yang sulit.

Upaya untuk mengatasi kesulitan:
1.      Tiap individu memahami dirinya, dengan memahami diri sendiri maka akan bisa mengatasi kesulitan-kesulitan bidan sendiri.
2.      Untuk memperlancar komunikasi siapkan materi, bahan, alat untuk mempermudah penerimaan klien.
3.      Menguasai ilmu komunikasi, sehingga dapat melakukan konseling pada semua klien dengan bermacam karakter dan keterbatasan mereka.
4.      Meletakkan kearifan sebagai dasar kepribadian konselor aktif.
Kearifan merupakan satu perangkat cirri kognitif dan afektif tertentu yg secara langsung pada ketrampilan dan pemahaman hidup. Karakteristiknya meliputi :
a)     Aspek afektif dan kesadaran meliputi empati, kepedulian, pengenalan rasa, deotomatisasi (menolak kecenderungan kebiasaan, perilaku dan pola berfikir otomatik, menekankan kesadaran tindakan dan pilihan yang bertanggungjawab).
b)     Aspek kognitif meliputi penalaran dialetik (mengenal konteks, situasi, berorientasi pada perubahan yang bermanfaat.



Strategi Membantu Klien Dalam Pengambilan Keputusan

Kemampuan dalam mengambil keputusan adalah sangat penting bagi klien untuk menyelesaikan masalah kegawatdaruratan terutama yang berhubungan dengan kebidanan. Dalam konseling pengambilan keputusan mutlak diambil oleh klien, bidan hanya membantu agar keputusan yang diambil klien tepat.
Empat strategi membantu klien dalam mengambil keputusan :
1.      Membantu klien meninjau kemungkinan pilihannya. Beri kesempatan klien untuk melihat lagi beberapa alternative pilihannya, agar tidak menyesal atau kecewa terhadap pilihannya.
2.      Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan, dengan melihat kembali keuntungan atau konsekuensi positif dan kerugiannya atau konsekuensi negatif.
3.      Membantu klien mengevaluasi pilihan. Setelah klien menetapkan pilihan, bantu klien mencermati pilihannya.
4.      Membantu klien menyusun rencana kerja, untuk menyelesaikan masalahnya.
Pengambilan keputusan yang baik harus mempertimbangkan :
·         Kondisi
·         Kehendak
·         Konsekuensinya

Langkah dalam pengambilan keputusan yang baik :
1.      Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien.
2.      Susunlah daftar kehendak atau pilihan keputusan.
3.      Untuk setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya (POSITIF dan NEGATIF).

Hal-hal yang perlu ditekankan kepada klien dalam pengambilan keputusan.
1.      Hati-hati dan bersikap bijaksana dalam pengambilan keputusan karena berkaitan dengan masalah kehamilan, persalinan dan masa nifas. Pengambilan keputusan dibuat setelah klien diberi informasi secukupnya untuk menimbang pilihan sesuai dengan situasinya.
2.      Bantu klien dalam pengambilan keputusan dengan memberikan saran yang sesuai dengan riwayat kesehatannya, keinginan pribadi dan situasi.
3.      Keputusan merupakan hak dan menjadi tanggung jawab klien.
4.      Konseling bukan proses informasi, melainkan informasi setelah konselor memperoleh data atau informasi tentang keadaan dan kebutuhan klien dan informasi yang diberikan sesuai dengan kondisi klien dan kebutuhannya.
Faktor Yang Mempengaruhi
1.      Fisik
Pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan fisik (tidak berat dan tidak memforsir tenaga). Menghindari tingkah laku yg menimbulkan ketidaksenangan dan memilih tingkah laku yg menimbulkan kesenangan.
2.      Emosional
Biasa terjadi pada kaum perempuan.
Sikap subjektivitas akan mempengaruhi keputusan yang diambil.
3.      Rasional
Biasa didasarkan pada pengetahuan (orang terpelajar dan intelektual).
Orang mendapat informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
4.      Praktikal
Didasarkan kepada keterampilan individu dan kemampuan melaksanakannya (untuk menilai potensi diri dan kepercayaan diri)
.
5.      Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan social.
Hubungan antara satu orang dan orang lain mempengaruhi tindakan individu.
6.      Struktural
Didasarkan pada lingkup social, ekonomi dan politik.
Lingkungan bisa mendukung maupun mengkritik.

Tipe Pengambilan Keputusan (Saraswati I, Tarigan L.H, 2002)
1.      Pengambilan keputusan untuk tidak berbuat apa-apa karena ketidaksanggupan atau merasa tidak sanggup.
2.      Pengambilan keputusan intuitif, sifatnya segera, langsung diputuskan, karena keputusan tersebut dirasakan paling tepat.
3.      Pengambilan keputusan yang terpaksa, karena segera dilaksanakan.
4.      Pengambilan keputusan yang reaktif. Sering kali dilakukan dalam situasi marah dan tergesa-gesa.
5.      Pengambilan keputusan yang ditangguhkan, dialihkan pada orang lain yang bertanggung jawab.
6.      Pengambilan keputusan secara berhati-hati, dipikirkan baik-baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.

Pemberian Informasi Efektif
Pemberian informasi efektif bila:
1.      Informasi yg diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam mengambil keputusan.
2.      Informasi disesuaikan dengan situasi klien, dan mudah dimengerti.
3.      Diberikan dengan memperhatikan hal-hal berikut :
a)     Singkat dan tepat (pilih hal-hal penting yg perlu diingat klien)
b)     Menggunakan bahasa sederhana
c)      Gunakan alat bantu visual sewaktu menjelaskan.
d)     Beri kesempatan klien bertanya dan minta klien mengulang hal-hal penting



DAFTAR PUSTAKA

Tyastuti S, dkk. 2008. Komunikasi dan Konseling dalam Pelayanan Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya

0 komentar on "Komunikasi dan Konseling dalam Pelayanan Kebidanan"

Poskan Komentar